Gedung Lawang Sewu

Gedung Lawang Sewu, Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah
 

lawang-sewu.jpgSource: Unsplash
 
Lawang sewu seolah menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh siapa saja yang datang ke Semarang, baik untuk berwisata atau mengunjungi saudara. Memang Lawang Sewu saat ini sudah menjadi salah satu icon penting Kota Semarang. Apalagi ketika musim liburan tiba, sudah bisa dipastikan tempat ini akan selalu dipenuhi oleh wisatawan. Terlebih lagi lokasinya berada di pusat kota yang tidak jauh dari banyaknya hotel di Semarang, sehingga aksesnya sangat mudah dijangkau.

Nah, untuk Anda yang pernah datang ke sana pasti pernah melihat ada sebuah kepala lokomotif di bagian depan gedung. Pernahkah Anda bertanya mengapa bisa ada kepala lokomotif di gedung tua?

Ternyata, hal itu berkaitan erat dengan sejarah berdirinya gedung tersebut. Sebab, gedung yang dibangun sejak tahun 1904 hingga 1907 ini awalnya merupakan kantor administrasi NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij). NIS sendiri merupakan salah satu perusahaan kereta api di Hindia Belanda. Pada awalnya kegiatan administrasi dilakukan di Stasiun Semarang Gudang, tetapi karena jalur jaringan kereta berkembang pesat yang menyebabkan pertambahan personel, membuat tempat tersebut tidak lagi memadai.

Sebelum membangun gedung lawang sewu, NIS mencoba mengatasinya dengan menyewa bangunan tetapi ternyata justru tidak efisien dan terkendala berbagai hal. Akhirnya NIS memutuskan untuk membangun sebuah kantor baru yang saat ini menjadi Gedung Lawang Sewu.

Meskipun sudah berusia sangat tua, bangunan ini masih berdiri dengan kokoh dan tahan gempa. Hal ini karena pembangunan pondasinya yang sangat kuat, yaitu dengan membuat galian sedalam 4 meter dan kemudian menggantinya dengan lapisan vulkanis.

Setelah NIS meninggalkan Lawang Sewu, gedung ini beralih fungsi menjadi saksi bisu kejamnya penjajah, baik pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Beberapa ruangan dengan sengaja diubah menjadi ruang penyiksaan dan penjara. Selain itu, pada masa mempertahankan kemerdekaan gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran 5 hari di Semarang yang terjadi sejak tanggal 14 Oktober-19 Oktober 1945. Itulah sebabnya, melalui Surat Keputusan Wali Kota Nomor 650/50/1992, Pemerintah Kota Semarang menjadikan gedung ini sebagai salah satu bangunan kuno bersejarah yang wajib dilindungi.

Indonesia sendiri pernah memanfaatkan gedung ini sebagai kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia dan dialih fungsikan menjadi kantor militer Indonesia. Namun kemudian gedung megah tersebut dikosongkan dan kepemilikannya kembali pada PT. Kereta Api Indonesia.