Kondisi Pariwisata Indonesia di Masa COVID-19

Beginilah Kondisi Pariwisata Indonesia di Masa Pandemi COVID-19

 

COVID-19 sangat berpengaruh pada berbagai sektor, tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga berbagai negara lain di dunia. Di Indonesia sendiri, industri pariwisata sempat bisa dikatakan mati pada saat DKI Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia menyatakan PSBB ketat pada bulan April 2020 lalu. Tempat wisata, hotel dan jenis penginapan lainnya, serta penjualan tiket dilarang beroperasi demi mengurangi penyebaran virus ini. PSBB ini kemudian diikuti oleh penerapan PSBB juga di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Berdasarkan data yang dimiliki media kontan, untuk periode Januari hingga April 2020 saja, industri pariwisata Indonesia sudah mengalami kerugian mencapai sekitar 85,78 triliun rupiah. Tidak hanya itu, menurut PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), ada sekitar 2.000 hotel dan 8.000 restoran yang berhenti beroperasi pada periode tersebut, dan total kerugiannya untuk dua industri tersebut adalah 70 triliun rupiah.

Sejak awal Juni 2020, Indonesia tepatnya DKI Jakarta mulai menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau yang sering disebut new normal. Hal ini ditujukan agar kegiatan perekonomian mulai kembali bisa berjalan normal meskipun ada beberapa aturan yang ditetapkan demi membatasi penyebaran virus ini.

Bagaimana dengan industri pariwisata?

Industri ini adalah salah satu yang mendapat perhatian penting pemerintah. Mengingat industri ini bisa menjadi sarana penting untuk memperbaiki perekonomian dan juga sumber pendapatan negara. Namun, pariwisata juga bisa menjadi sarana penyebaran virus yang sangat efektif.

Itulah sebabnya, pembukaan tempat wisata dilakukan secara bertahap dan pengelola wajib untuk melakukan protokol kesehatan yang ketat. Misalnya dengan beberapa cara berikut:

  • mewajibkan semua wisatawan menggunakan masker

  • menambah jumlah wastafel untuk memudahkan wisatawan mencuci tangan, dan

  • membatasi jumlah wisatawan agar tetap bisa menerapkan physical distancing.

Tidak hanya tempat wisata, industri perhotelan juga wajib untuk menerapkan protokol kesehatan yang serupa. Untuk lebih memberikan rasa aman pada tamunya, banyak hotel yang kemudian melakukan beberapa hal, yaitu:

  • lebih memerhatikan kebersihan seluruh area hotel,

  • seluruh pihak yang berada di area hotel (manajemen, staf, dan tamu) wajib menggunakan masker,

  • melakukan booking kamar secara online untuk mengurangi kontak fisik dengan staf,

  • memperluas area yang menjadi tempat berkumpul, seperti lobby, agar bisa menerapkan physical distancing dengan menyingkirkan beberapa benda yang tidak diperlukan,

  • tidak ada kegiatan breakfast atau sarapan di restoran untuk mencegah berkumpulnya banyak orang dan penyediaan makanan secara prasmanan yang sangat berisiko, dan

  • mengutamakan CHS (clean, hygiene, safety) dalam kegiatan operasionalnya.

Salah satu hotel yang menerapkan semua peraturan tersebut adalah Tauzia hotel. Tidak hanya hotel di Jakarta saja, tetapi juga hotel yang ada di semua daerah di Indonesia. Hotel ini kembali beroperasi dan akan sangat memerhatikan keamanan serta kenyamanan tamu maupun staf yang bekerja. Diharapkan semua tamu yang menginap dapat menikmati momen menginap di sini secara maksimal tanpa khawatir dengan ancaman virus.