Museum Seni di Bali

2 Museum Seni yang Wajib Dikunjungi di Bali


Kesohoran Pulau Bali di mata dunia memang bukan berita baru. Pasalnya, kepulauan ini sudah ramai dikunjungi wisatawan mancanegara sejak lebih dari satu dekade silam. Hal ini tak lepas dari eksotisme alam dan budaya Bali. Perusahaan media U.S. News, bahkan, menjuluki Pulau Bali sebagai “surga”.

Nah, salah satu destinasi budaya yang cukup sering dikunjungi wisatawan adalah museum seni. Kalau kamu sedang menginap di hotel di Bali, entah dalam rangka berlibur bersama keluarga ataupun berbulan madu bersama pasangan, berikut adalah dua museum seni yang tak boleh kamu lewatkan ketika berada di Bali:
 

1. Museum Seni Agung Rai (ARMA)

Museum Seni Agung Rai atau Agung Rai Museum of Arts (ARMA) didirikan oleh budayawan sekaligus tokoh seni Bali Agung Rai pada tahun 1996. Galeri seni yang berlokasi di Ubud ini sengaja dibangun untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali; mulai dari lukisan, patung, tari, musik, serta bentuk-bentuk kesenian lainnya.

Tak ayal, ARMA bukan hanya menyajikan koleksi karya-karya seni dari seniman ternama, melainkan juga membuka kelas-kelas seni untuk masyarakat ataupun wisatawan yang tertarik dengan kesenian dan kebudayaan Bali. Di samping itu, galeri seni ini juga mempunyai sederet ekshibisi khusus, lokakarya budaya, konferensi, seminar, serta program pelatihan seni dan budaya untuk publik.

Mengutip laman NOW! Bali, koleksi ARMA meliputi karya-karya seni tradisional hingga kontemporer. Salah satu korpusnya adalah Koleksi Kamasan klasik pada kulit pohon, yang merupakan mahakarya seniman Batuan dari tahun 1930-an sampai 1940-an. Selain itu, galeri seni ini juga menyimpan karya-karya seni dari seniman lokal seperti Ida Bagus Made Poleng, AA Gede Sobrat, I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kodo, AA Gde Meregeg, Nyoman Meja; seniman tanah air lain seperti Affandi, Sudjono, Srihadi Soedarsono, Raden Saleh; sampai seniman mancanegara seperti Rudolph Bonnet, Arie Smit, Le Majeur de Merpres, Willem Dooijewaard, Willem Hofker, Hans Snel, dan Donald Friend. Pertunjukan teater, tari, toko buku, perpustakaan dan ruang baca juga bisa kamu temukan di galeri ini.
 

2. Museum La Mayeur

La Mayeur Museum didirikan oleh Adrien Jean Le Mayeur—seorang seniman kelahiran Belgia yang kemudian menikahi seorang wanita Bali bernama Ni Pollok. Galeri seni yang menghadap langsung ke Pantai Sanur ini dulunya merupakan tempat tinggal La Mayeur. Tak mengherankan bila museum ini memiliki arsitektur Bali yang amat kental, dengan jendela-jendela elegan yang menggambarkan kisah epos Ramayana dan furnitur-furnitur yang antik.

Museum La Mayeur memajang karya-karya seni pribadinya. Korpus lukisan galeri ini, menurut laman NOW! Bali, merupakan gambaran kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh karya seni Le Mayeur yang paling terkenal adalah By the Lotus Pond, Girls on Beach, Garden at Sanur, Women Around the Lotus Pond, Temple Festival in Bali, serta—tentu saja—lukisan-lukisan tentang istrinya sendiri: Ni Pollok.

Semua gambaran kanvas di atas ditata dalam kamar-kamar pada kediaman Le Mayeur. Sehingga, ketika berkunjung ke museum ini kamu serasa sedang menjelajah rumah seseorang. Di samping koleksi lukisan, Museum La Mayeur juga punya ruang studio, ruang belajar, ruang baca, kamar-kamar tidur, serta ruang rias Ni Pollok. Galeri seni ini juga dicap sebagai salah satu museum paling ternama di Bali.
 

Itulah dia dua museum yang patut kamu kunjungi ketika berlibur ke Bali. Di masa pandemi ini, museum menjadi salah satu tempat yang tidak terlalu ramai didatangi wisatawan. Kalau dilihat dari segi protokol kesehatan, tentu hal ini menguntungkan karena kamu tidak perlu berdesakan dengan orang lain. Meski begitu, jangan lupa untuk tetap memakai masker dan mencuci tangan saat berkunjung ke museum, ya.