Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha, Surga bagi Pecinta Astronomi


Observatorium Bosscha di Lembang merupakan salah satu ikon Kota Bandung. Meski berlokasi sekitar 10 sampai 15 kilometer dari hotel di Bandung, tempat peneropongan bintang ini tetaplah jadi satu dari sejumlah destinasi wajib wisatawan ketika berkunjung ke Bumi Parahyangan. Terkhusus bagi pecinta astronomi, bertandang ke Bosscha adalah sebuah keharusan.
 

Latar Belakang dan Sejarah Pendirian

Pembangunan Observatorium Bosscha digagas oleh Joan George Erardus Gijsbertus Voûte, seorang astronom Belanda kelahiran Madiun, yang menganggap bahwa mendirikan tempat peneropongan bintang di bagian selatan Bumi adalah sebuah keharusan. Hal ini didasari oleh pemahaman para astronom di awal abad ke-20 tentang konstelasi bintang yang rupanya terikat satu sama lain.

Voûte kemudian mengajak para pengusaha kaya raya di Hindia Belanda untuk memberikannya bantuan modal. Karel Albert Rudolf Bosscha (K.A.R. Bosscha) merupakan satu pengusaha sekaligus filantropi berdarah Jerman-Belanda yang bersedia untuk menyumbang dana juga membantu pembelian teleskop besar dari produsen Carl Zeiss Jena di Jerman. Atas jasa besarnya, tempat peneropongan bintang ini kemudian dinamakan Observatorium Bosscha.
 

Pembangunan dan Perubahan Kepemilikan

Observatorium Bosscha dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) atau Asosiasi Astronomi Hindia Belanda pada tahun 1923 hingga 1928 di atas lahan seluas 6 hektar pada ketinggian 1310 mdpl (Wikipedia). Kegiatan pengamatan sudah mulai dilakukan sejak tahun 1925 dengan mengandalkan instrumen atau teleskop yang ada. Meski begitu, pembukaan resmi sekaligus kehadiran teleskop besar dari Carl Zeiss Jena baru tiba di tahun 1928. Sementara itu, publikasi internasional pertama Bosscha diselenggarakan pada tahun 1933.

Aktivitas penelitian dan pengamatan di Bosscha terus berlangsung hingga Perang Dunia ke-II pecah. Peperangan itu menghentikan segala aktivitas akademis sekaligus organisasi yang mengurus Bosscha. Observatorium ini kemudian direnovasi besar-besaran setelah Perang Dunia Kedua usai dan kembali dibuka di bawah kuasa Jepang, yang kala itu menjajah Hindia Belanda. Baru pada tahun 1951, tempat ini diserahkan pada pemerintah Indonesia. Saat ini, Observatorium Bosscha menjadi milik Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Jurusan Astronomi, dan digunakan oleh peneliti astronomi seluruh Indonesia.
 

Koleksi Teleskop Bosscha

Selain Zeiss Double Refractor Telescope yang didonasikan oleh K.A.R Bosscha, observatorium ini sekarang memiliki total 12 teleskop untuk kebutuhan observasi astronomi. Adapun macam teleskop Bosscha adalah:

  • Zeiss Double Refractor Telescope
  • Bosscha Robotic Telescope (BRT)
  • STEVia Telescope
  • GAO-ITB RTS (Remote Telescope System)
  • Surya Telescope
  • Portable Telescope
  • Bamberg Telescope
  • GOTO Telescope
  • Schmidt Bimasakti Telescope
  • Hydrogen Radio Telescope 6 m
  • Radio Telescope 2,3 m
  • JOVE Radio Telescope
 

Zeiss Double Refractor Telescope bisa mengamati bintang yang seratus ribu kali lebih redup dari bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Sementara itu, keseluruhan koleksi teleskop Bosscha dapat digunakan untuk kebutuhan pengamatan astrometrik posisi benda-benda langit, gerak gugus bintang, bintang variabel, kurva cahaya bintang, gerhana fotometrik bintang, permukaan Bulan dan Matahari, spektroskopi bintang, pencitraan planet, hidrogen netral seperti pada Galaksi Bima Sakti, semburan Jupiter, studi exoplanet, pendeteksian NEA (asteroid dekat Bumi), sampai untuk keperluan penelitian, magang, dan pelayanan publik.

Observatorium Bosscha memang sedang ditutup hingga akhir tahun 2020 karena pandemi coronavirus. Meski begitu, jangan lewatkan tempat ini ketika berkunjung ke Bandung tahun depan, ya! Untuk sementara waktu, kamu bisa mengikuti update dari Bosscha lewat akun media sosial mereka.