Perayaan Bridal Shower

Bagaimana Perayaan Bridal Shower Bermula?

Perayaan-Bridal-Shower.jpgSource: Unsplash
 
Beberapa hari atau pekan sebelum perhelatan pernikahan digelar, calon pengantin wanita akan diminta oleh teman-teman terdekatnya untuk hadir di sebuah tempat. Kemudian, ketika dirinya tiba, ia akan dikejutkan oleh suasana lokasi yang telah dihias sedemikian rupa serta tampilan teman-temannya yang unik. Setelah itu, para sahabat akan memberinya tantangan atau kuis berkaitan tentang hubungannya bersama calon pengantin pria atau rumah tangga secara umum untuk ia selesaikan. Jika gagal, ia harus menerima hukuman seperti coretan lipstik di wajah. Begitulah skema bridal shower yang akhir-akhir ini marak diterima oleh seorang calon pengantin wanita dari teman-temannya.

Kebanyakan dari mereka mengadakan perayaan tersebut di kafe, namun tak sedikit pula yang rela mem-booking satu kamar hotel di Jakarta untuk menggelar kegiatan tersebut—lantas lanjut bermalam bersama. Tapi, tahukah Anda bagaimana perayaan bridal shower ini sesungguhnya bermula?

Dilansir dari World Bride Magazine, istilah bridal shower mulai populer di Amerika Serikat pada akhir era Victoria. Tak berbeda jauh dengan perayaan masa kini, wanita-wanita dari kelas menengah ke atas periode tersebut akan mengadakan pesta bridal shower untuk teman mereka yang hendak menikah. Bertukar pikiran soal kehidupan rumah tangga yang nantinya akan dijalani pengantin wanita sambil menyantap makanan adalah agenda dalam perayaan itu. Kemudian, teman-teman calon pengantin wanita akan meletakkan kado yang telah mereka siapkan di dalam payung kertas, lalu “menghujani” calon pengantin wanita dengan hadiah-hadiah tersebut. Aktivitas inilah yang dikenal dengan bridal shower—menghujani calon pengantin dengan hadiah.

Namun, cerita yang berbeda tentang perayaan bridal shower datang dari daratan Eropa, tepatnya di Belanda, pada awal ke-16. Alkisah, seorang wanita hendak menikahi pria pilihannya. Akan tetapi, sang ayah tak menyetujui dan tak sudi membantunya untuk membelikannya mahar serta mengadakan pernikahan. Pada masa itu, wanita perlu menyediakan mahar sebagai kompensasi dirinya yang nanti akan menjadi beban tanggungan hidup sang suami. Untuk mewujudkan keinginan si wanita, teman-teman serta beberapa anggota keluarganya berpatungan membelikan mahar juga barang-barang rumah tangga. Benda-benda inilah yang nanti akan mereka serahkan dalam perayaan bridal shower. Bukan hanya wanita yang tak mendapat restu ayah, wanita dengan finansial yang kurang pun akan memperoleh mahar dan kebutuhan rumah tangga dari teman-temannya dalam perayaan ini.

Begitulah cerita awal bridal shower yang sesungguhnya. Menarik, bukan, mengetahui latar belakang salah satu perayaan pra-pernikahan yang kini ramai dibuat oleh wanita untuk teman calon pengantinnya?