Perbedaan Paes Yogya dan Solo

Apa Sajakah Perbedaan Paes Yogya dan Solo?

paes-yogya-n-solo.jpgSource: Unsplash
 
Sebagai kelompok masyarakat terbesar, suku Jawa memiliki beragam sumber aturan dan kaidah yang berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia. Salah satu hal yang diatur oleh norma tersebut adalah pernikahan. Di Jawa Tengah, ketentuan-ketentuan soal pernikahan ini umumnya berasal dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta (Solo). Walau keduanya sama-sama berakar dari suku Jawa, ternyata riasan pengantin wanita dari kedua keraton ini memiliki kekhasan tersendiri. Apa sajakah itu?

Dilansir dari Indonesia.go.id, riasan pengantin wanita jawa bernama paes atau papaes. Secara harfiah, istilah ini berarti memperindah dahi seorang calon pengantin wanita, yang meliputi mempercantik alis dan mata, membersihkan rambut halus di dahi, dan lain sebagainya. Paes Yogya terbagi ke dalam 6 jenis, yakni Paes Ageng, Paes Ageng Jangan Menir, Paes Ageng Kanigaran, Yogya Puteri, Ksatriyan Ageng, dan Pura Pakualaman. Sedangkan paes Solo terbagi ke dalam 5 jenis, yaitu Solo Basahan, Solo Puteri, Solo Langenharjan, Solo Taqwa, dan Solo Mangkunegaran.

Pola rias atau paes Yogya dan Solo sama-sama terdiri dari 4 bagian, yakni penunggul atau gajahan, pengapit, penitis, dan godheg. Penunggul atau gajahan adalah pola yang terletak di tengah dahi. Pola rias Yogya berbentuk seperti potongan daun sirih dan bernama penunggul, sedangkan pola rias Solo berbentuk seperti setengah bulatan ujung telur bebek dan bernama gajahan. Di samping kiri dan kanan penunggul atau gajahan, terdapat riasan berbentuk runcing yang dikenal dengan istilah pengapit. Tidak ada perbedaan bentuk pengapit pada kedua pola rias Yogya dan Solo. Sebelah pengapit, terdapat riasan bernama penitis. Penitis pada paes Yogya berbentuk seperti potongan daun sirih dengan dimensi yang lebih kecil dibandingkan penunggul. Sementara pada paes Solo, penitis berbentuk seperti setengah bulatan telur ayam. Di bagian dahi yang mengikuti cambang, terdapat riasan bernama godheg. Godheg pada paes Yogya berbentuk seperti ujung mata pisau, sedangkan godheg pada paes Solo berbentuk seperti kuncup turi.

Perbedaan lain kedua pola rias keratonan ini ialah penggunaan serbuk emas (prada) dan materi pulasan (pidih atau lotha). Paes Ageng Jangan Menir dan Paes Ageng Kanigaran Yogya menggunakan prada di bagian tepi paes. Sedangkan semua jenis paes Solo tidak menggunakan prada, namun paes Solo Basahan menggunakan pidih berwarna putih dan paes Solo Puteri memakai lotha berwarna hitam.

Demikianlah penjelasan tentang perbedaan pola rias Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Secara umum, pola rias yang banyak ditemui di tempat wedding Semarang ini memiliki perbedaan pada tingkat keruncingan, bubuhan, serta warna pulasan. Walau begitu, makna dan harapan yang dibawa keduanya tetaplah sama.