Sejarah Stasiun Gambir

Sering Naik Kereta, Sudah Tahu Sejarah Stasiun Gambir?


Untuk Anda yang sering naik kereta, atau pernah naik kereta ke luar kota, pasti sudah tahu Stasiun Gambir. Sebab, ini merupakan stasiun utama di Jakarta yang melayani rute perjalanan luar kota selain Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Kota. Yang membedakan antara semua stasiun tersebut adalah jenis kereta yang melayaninya. Stasiun Gambir saat ini hanya melayani kereta untuk kelas Eksekutif dan beberapa jenis kereta yang memiliki gerbong dengan kelas campur, seperti kelas eksekutif dengan bisnis dalam 1 kereta.

Salah satu yang menjadi unggulan stasiun ini adalah lokasinya yang berada di tengah kota dan memiliki akses yang mudah. Selain itu terdapat banyak hotel di Jakarta yang ada di dekatnya sehingga Anda bisa memanfaatkannya jika memiliki jadwal keberangkatan terlalu pagi atau malam. Lokasinya juga dekat dengan Monas (Monumen Nasional) yang menjadi tempat wisata wajib dikunjungi oleh warga luar Jakarta saat berwisata ke kota ini. Membuat stasiun ini semakin ramai dikunjungi tidak hanya oleh penumpang kereta saja, tetapi juga oleh pengunjung Monas.

Ya, stasiun ini memang sudah sangat terkenal. Namun, bagaimana dengan sejarah stasiun ini? Apakah Anda sudah mengetahuinya? Jika belum, yuk kita bahas langsung berdasarkan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber (cekaja dan tirto).

Lokasi keberadaan Stasiun Gambir dulu bernama Weltevreden dan Halte Koningspelin merupakan awal mula terbentuknya Stasiun Gambir. Terletak di area Selatan dengan jarak beberapa ratus meter dari lokasi Stasiun Gambir saat ini, dan sudah berdiri sejak Tahun 1871. Halte kereta api ini terhubung dengan Halte Klein Boom dan dikelola ole NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg).

Semakin lama kawasan ini semakin berkembang hingga akhirnya secara resmi dibangunlah sebuah stasiun dengan nama Stasiun Weltevreden, sesuai dengan lokasinya berada. Stasiun tersebut secara resmi dibuka pada tanggal 4 Oktober 1884 dengan melayani 2 rute luar kota, yaitu Bandung dan Surabaya.

Pada tahun 1917 terjadi perpindahan pengelolaan stasiun ini dari NIS ke SS (Staatsspoorwegen), yaitu perusahaan kereta api terbesar di Hindia Belanda. Pada tahun 1927-1928 stasiun ini kemudian direnovasi dan diperbesar. Stasiun ini menggunakan gaya art deco dan atap peronnya diperpanjang hingga 55 meter. Setelah itu, nama stasiun ini kemudian diubah menjadi Batavia Welterveden SS. Kemudian pada tahun 1992 stasiun ini kembali mengalami renovasi besar-besaran dan dijadikan stasiun layang serta diubah namanya menjadi Stasiun Gambir.

Sebagai salah satu stasiun utama di Jakarta, Stasiun Gambir menjadi saksi bisu dari berbagai kejadian perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah. Terutama yang berkaitan dengan transportasi antar kota. Itulah sebabnya, bangunan ini patut untuk dijaga dan dirawat karena memiliki nilai sejarah yang luar biasa.

Namun, fungsinya sebagai stasiun untuk kereta antar kota sebentar lagi akan berubah. Menurut informasi yang beredar, pada tahun 2021 mendatang perjalanan kereta antar kota akan dialihkan melalui Stasiun Manggarai. Meskipun begitu, Anda tidak perlu khawatir bangunan ini tidak akan lagi digunakan. Sebab Stasiun Gambir akan tetap beroperasi sebagai stasiun untuk CommuterLine, kereta yang melayani rute JaBoDeTaBek. Jadi, stasiun ini akan tetap terawat dengan baik!