Apa Makna Filosofis di Balik Pakaian Adat Khas Surabaya

Apa Makna Filosofis di Balik Pakaian Adat Khas Surabaya?

Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Surabaya sudah tentu dilalui berbagai arus informasi. Hal itu pula yang menjadikan Kota Surabaya jadi sangat terbuka dengan pemikiran-pemikiran baru sehingga membuat masyarakatnya sangat heterogen. Meski masyarakatnya memiliki pemikiran yang terbuka dan begitu beragam, Kota Surabaya tetap tidak kehilangan identitas dan jati dirinya. Itu pun terlihat dari pakaian adat Surabaya. Nah, jika kamu ingin mengenal lebih jauh tentang baju adat Surabaya, simak penjelasannya berikut ini.
 

Nilai Filosofis di Balik Pakaian Adat Surabaya

Pada dasarnya, pakaian adat Surabaya yang bernama busana Cak dan Ning tidak hanya sekadar identitas dari daerah tersebut. Lebih jauh lagi, pakaian Cak dan Ning nyatanya memiliki nilai filosofis yang begitu dalam di setiap elemen-elemennya. Elemen-elemen yang terdapat di baju adat Surabaya ini menjadi bukti kecintaan atau kebanggan masyarakat Surabaya pada baju adatnya itu.

Untuk busana atasan Cak (laki-laki) biasanya terdiri dari beskap berwarna putih gading berhias sapu tangan merah dan kuku macan. Sementara untuk bawahannya akan dipakaikan kain jarik bermotif rawan, parikesit, ataupun gringsing. Tak lupa, penutup kepala berupa udeng poteh poncot dan terompah untuk alas kakinya juga akan ikut dikenakan pada busana Cak ini.

Sedangkan untuk busana atasan Ning (perempuan) terdiri dari kebaya berhias peniti renteng tebu sekeret dan jarik. Biasanya, jarik Pekalongan bermotif flora yang sering dipakaikan pada bawahan Ning. Aksesoris pendukung lain seperti tusuk konde koin emas, anting, gelang rencong dan binggel emas, serta selop juga akan ikut dikenakan. Meski tampak sederhana, pakaian adat Surabaya ini bisa memancarkan aura tersendiri sehingga memberikan kesan yang menawan bagi siapa saja yang mengenakannya. Tidak mengherankan bila sejumlah masyarakat Surabaya begitu mendambakan menggunakan pakaian Cak dan Ning.
 

Kapan Pakaian Adat Cak dan Ning Digunakan?

Layaknya daerah lain di Indonesia, Surabaya juga memiliki kontes pemilihan bujang dan gadis yang disebut Kontes Cak dan Ning. Pada kontes itu pula, tiap peserta diharuskan mengenakan pakaian khas Surabaya. Karena hanya dikenakan saat diadakan Kontes Cak dan Ning saja, maka saat tidak sedang diselenggarakan acara tersebut baju adat Surabaya ini tak boleh dipakai secara sembarangan.

Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, baik busana Cak dan Ning harus dikenakan secara lengkap tanpa mengurangi setiap elemen-elemen yang ada di dalamnya. Pasalnya, tiap elemen yang ada pada pakaian adat tersebut menjadi penanda kecintaan masyarakat Surabaya kepada busananya khasnya itu.
 

Destinasi Liburan Seru di Surabaya

Tidak hanya pakaian adat dan adat istiadat yang unik, Kota Surabaya juga menyimpan banyak destinasi wisata yang seru dan wajib dikunjungi ketika sedang berkunjung ke sana. Berbagai destinasi wisata itu tentunya menawarkan pengalaman yang mengasyikan dan tak terlupakan bagi siapa pun yang datang.

Adapun destinasi wisata seru di Kota Surabaya yang harus masuk ke dalam daftar itinerary kamu, di antaranya:
  • Monumen Jalesveva Jayamahe
  • Tugu Pahlawan Surabaya
  • Museum House of Sampoerna
  • Taman Gantung Surabaya
  • Wisata Hutan Mangrove Wonorejo
  • Suroboyo Carnival Park
  • Museum Surabaya

Supaya liburanmu di Surabaya semakin menyenangkan, penting pula untuk memerhatikan tempat menginap. Beruntungnya, ada banyak hotel berbintang yang dapat kamu pilih untuk menyempurnakan liburan di Kota Pahlawan itu. Salah satunya adalah HARRIS Hotel Bundaran Satelit, Surabaya. Sebagai salah satu resort bintang empat terbaik di Kota Surabaya, HARRIS Hotel Bundaran Satelit Surabaya menawarkan fasilitas lengkap dengan pemandangan indah di lokasi yang strategis. Ditambah lagi HARRIS Hotel Bundaran Satelit Surabaya juga sudah menyempurnakan hotelnya itu dengan konsep healthy lifestyle dengan standar higienitas yang sangat tinggi, sehingga aman untuk dihuni selama masa pandemi.