Sejarah Stasiun Gubeng

Stasiun Surabaya Gubeng

Sejarah Menarik dari Stasiun Surabaya Gubeng


Buat kamu yang sudah sering bepergian dari dan ke Surabaya dengan kereta api, tentu sudah tidak asing lagi dengan Stasiun Gubeng. Sebetulnya Surabaya juga memiliki satu stasiun lain yang tak kalah terkenal, yakni Stasiun Pasar Turi. Namun, stasiun yang lokasinya terletak di Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, ini menyimpan lebih banyak fakta sejarah sehingga sangat menarik untuk dikulik. Penasaran ada fakta sejarah apa saja?

 

1.  Mulai Dibangun pada Tahun 1870


Sebagai stasiun terbesar dan utama yang melayani keberangkatan dan kedatangan ke Surabaya, stasiun ini ternyata pertama kali dibangun pada tahun 1870. Pembangunan Stasiun Gubeng bertepatan dengan baru dimulainya pembangunan untuk jalur Surabaya-Malang-Pasuruan.

 

2.  Mengangkut Hasil Bumi dan Tentara Belanda


Sewaktu dibangun, Stasiun Surabaya Gubeng difungsikan sebagai tempat pemberhentian kereta yang mengangkut hasil bumi dari perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah Jawa Timur. Sehubungan dengan adanya perlawanan dari pribumi, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengubah fungsi stasiun ini sebagai tempat berkumpul para tentara yang akan dikirim ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

 

3.  Mengalami Renovasi Beberapa Kali


Seiring dengan berubahnya fungsi Stasiun Gubeng menjadi penunjang moda transportasi bagi masyarakat Surabaya, stasiun ini pun mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1905, tepat saat Surabaya dinyatakan sebagai Kotamadya.
 
Pada tahun tersebut, stasiun ini mengalami renovasi di bagian peron, kemudian 23 tahun setelahnya, yakni di tahun 1928, renovasi juga dilakukan di bagian atap bangunan lobby utama. Renovasi dilanjutkan pada tahun 1990 dengan menambahkan bangunan baru di sisi timur rel dengan arsitektur yang lebih modern dan lebih luas.

 

4.  Stasiun Baru dan Lama


Stasiun Surabaya Gubeng dibagi menjadi dua bagian, yakni Stasiun Gubeng Lama dan Stasiun Gubeng Baru. Meski masih dalam satu kompleks, keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Stasiun Gubeng Lama letaknya di sisi barat, dekat dengan Rumah Sakit DKT.
 
Stasiun tersebut dikhususkan untuk melayani perjalanan kereta api kelas ekonomi, entah itu yang dalam kota maupun antar kota. Sedangkan Stasiun Gubeng Baru letaknya berada di sisi timur, berdekatan dengan PDAM Kota Surabaya. Stasiun ini dikhususkan untuk melayani perjalanan kereta api kelas bisnis dan eksekutif.

 

5.  Memiliki Arsitektur yang Unik


Stasiun Surabaya Gubeng masih berciri khas arsitektur kolonial yang ditandai dengan adanya tembok-tembok kokoh yang menjulang tinggi dan bagian pinggiran atapnya biasanya dihiasi dengan ornamen dari besi.
 
Tidak hanya itu, gaya bangunan Indische alias gaya kolonial, juga tampak pada bagian jendela yang ukurannya besar dan menggunakan jalusi besi dengan ornamen berpola bunga-bunga, yang merupakan ciri dari seni dekorasi Art Noveau yang booming di akhir abad ke-18.
 
Karena kental dengan nuansa kolonial, stasiun ini masuk dalam bagian dari daftar cagar budaya yang ada di Surabaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) walikota Surabaya dan SK Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) pada 2007.
 
Selain menyimpan sejarah tentang perkeretaapian Indonesia, Surabaya juga memiliki banyak destinasi wisata lain yang bisa dijelajahi. Nah, agar liburan di Surabaya semakin asyik dan seru, kamu bisa mengajak keluarga untuk menginap di HARRIS Hotel!
 
Sebagai salah satu resort bintang empat terbaik di Indonesia, HARRIS Hotel mengusung konsep healthy lifestyle dengan standar higienitas dan kebersihan yang tinggi. Bukan hanya itu, HARRIS Hotel pun berkomitmen untuk menjaga  kesehatan setiap tamu, sehingga Anda dan keluarga bisa menginap dengan tenang dan liburan di Surabaya dengan nyaman.
 
Di Surabaya, HARRIS Hotel tersedia di dua wilayah, yaitu HARRIS Hotel Gubeng dan HARRIS Hotel Bundaran Satelit Surabaya. Kedua cabang HARRIS Hotel tersebut sama-sama menawarkan fasilitas yang lengkap dengan lokasi yang strategis.